Entry: PESONA PETERPAN....dari Kompas 13 Maret 2005 Monday, March 14, 2005



Persona: Peterpan

Di bandara internasional Kuala Lumpur, Malaysia, Desember lalu, mengalun lagu Peterpan, Ada Apa Denganmu.
Lagu itu terdengar dalam versi nada dering, ringtone telepon seluler. Yang empunya HP itu ternyata seorang pekerja Indonesia yang akan pulang ke Kawunganten, Cilacap, Jawa Tengah. Ada Apa Denganmu juga diputar penjual compact disc (CD) di atas feri yang menyeberangi Gilimanuk-Ketapang yang menghubungkan pula Bali-Jawa. Lagu itu pula yang suka dinyanyikan pengamen bis kota di Jakarta, sampai pengamen cilik di sekitar Bandung Indah Plaza.Di pusat perbelanjaan di Jakarta seperti Pasar Baru, Blok M, atau Mangga Dua Ada Apa Denganmu terdengar dari ujung ke ujung-sebagian terdengar lewat versi CD bajakan. Begitulah Peterpan, sebuah band pop asal Bandung, yang sedang populer dalam pengertian yang sebenarnya-populis, merakyat. Ia menjadi fenomena di belantika musik pop Indonesia saat ini. Album kedua mereka Bintang di Surga terbitan Musica Studio, telah terjual di atas dua juta keping. Ini termasuk angka yang susah diraih dalam kondisi pasar musik Tanah Air saat ini. Angka itu merupakan lompatan besar dibanding album pertama mereka Taman Langit yang sampai saat ini terjual sekitar 800.000 keping. Angka itu juga merupakan lompatan luar biasa mengingat mereka sekitar empat tahun lalu cuma dibayar nasi goreng dan teh botol untuk tampil di kafe-kini bayaran mereka sudah di atas Rp 30 juta sekali pentas. Popularitas mereka benar-benar dirintis dari bawah. Mereka mulai dari band latihan di awal 1990-an, meningkat ke band kafe, dan kini mereka pentas di puluhan kota di negeri ini. Perjalanan Peterpan adalah reality show yang se-real-real-nya.
Juri mereka adalah lebih dua juta telinga publik itu tadi.

Peterpan yang resmi dibentuk pada 1 September 2000 itu beranggotakan vokalis Nazril Irham alias Ariel (23), Andika Naliputra Wirahardja (24) pada keyboards, Ilsyah Ryan Reza (28) pada drum,
Lukman Hakim (28) pada gitar, Hendra Suhendra (27 )pada bas, dan Uki-M Kautsar Hikmat (24) pada gitar.
Peterpan ditemui Kompas di Musica Studio, Jakarta, di tengah jadwal padat tur 20 kota di Sumatera dan Kalimantan.

PERNAH membayangkan akan sukses seperti saat ini?
Ariel:
Enggak. Enggak ada bayangan itu. Kita cuma pengen main band. Waktu masih zamannya Topi(band yang mereka bentuk sebelum Peterpan) ya cuma band-band-an saja. Waktu Peterpan sudah lumayan yah, kita pengen-nya main di kafe saja. Aku dulu kan sebagai pemain tambahan. Saat itu, kapan pun mau keluar, sebenarnya bisa. Kami enggak ada rencana dan target yang aneh-aneh selain main di kafe.
Andika: Dulu sih waktu bikin Peterpan enggak ada impian yang muluk-muluk soalnya susah kan masuk rekaman. Jadi targetnya cuma jadi band kafe sambil kuliah.

Apa arti sukses buat Anda?
Andika:
Kami belum bisa mengatakan apa-apa karena sukses dalam musik bukan berarti sukses dalam hidup. Kalau buat sekarang, buat saya sukses itu artinya sudah tahu mau ngapain dan sudah dibuka jalannya. Aku merasa belum sukses.

Ariel: Sebagai musisi, sukses itu ukurannya seperti Rolling Stones, The Beatles. Mereka dikenal orang dalam jangka waktu lama. Itu berarti kena di masyarakat.

Kapan jalan mulai terbuka?
Ariel:
Waktu itu kami dikasih tahu, "Kalian mau dijadikan video klip!" Aku baru sadar kalau jalan sudah mulai kebuka. Waktu album pertama yang kompilasi itu, kita belum berpikir akan jadi apa-apa. Tapi setelah mau dijadikan klip saya membayangkan kayaknya akan ada sesuatu nih.

Apa hasil yang terlihat?
Ariel: Ada lah. Instrumen-instrumen musik dan peralatan buat homestudio sendiri, bisa buat rekaman di rumah. Dari Mark, berubah jadi laptop. Jadi lebih gampang kalau mau bikin lagu. Aku juga belikan robot-robotan yang rakit-rakitan gitu, aku suka Gundam, aku sekarang jadi koleksi yang bagus-bagus.
Lukman: Dulu (gitar) Fender-nya masih minjam punya Uki. Dia kan punya gitar dua, satunya aku pakai yang Fender Telecaster. Sekarang aku punya dua. Yang Fender harganya Rp 12 juta. Dulu itu yang harganya Rp 1,6 jutaan.
Andika: Buat aku tabung aja, enggak tahu sampai kapan Peterpan kayak gini. Mungkin tahun depan jatuh, siapa tahu.
Sekarang aku udah punya anak jadi harus punya tabungan.Sekarang kalau aku jatuh, anak mau sekolah terus aku enggak punya duit, ya gimana? Dulu aku enggak punya keyboards, dan kalau main harus pinjam adik, sekarang aku jadi punya. Dulu punya satu keyboards Korg sekarang udah ada tambahan dua. Itu inventaris pribadi, band enggak ada inventarisnya.

Investasi untuk instrumen ya?
Lukman: Ya, itu untuk memuaskan penonton.
Andika: Dengan frekuensi panggung padat, sementara kualitas alat gitu-gitu aja nanti orang-orang mikir, band ini enggak ada peningkatan. Dengan beli alat kita harap ya sound-nya dapet gitu.

Ada perubahan gaya hidup?
Lifestyle kayaknya sih enggak berubah. Waktu yang paling banyak berubah. Pakaian dulu pas manggung seadanya banget, enggak sampai hunting pakaian. Apalagi dulu kan ada sponsor, kalau ada ya kita pakai.

Sekarang jadi bermerek?
Uki:
Enggak juga. Kuantitasnya saja yang lebih banyak. Kan disesuaikan sama jadwal manggung yang jauh lebih banyak. Dulu kami lebih banyak pinjem-pinjeman.

Masih sempat bergaul?
Lukman:
Kita enggak bisa gaul. Itu ruginya kami.

Ariel:
Yah, praktis enggak bisa ke mana-mana. Kalaupun ke mana-mana enggak nyaman. Persoalan sih bukan kita yang bikin, tapi masyarakat. Jadi apa yang dulu normal kita lakukan, sekarang enggak lagi. Dulu aku sering ngumpul sama teman-teman SMA. Tapi, sekarang orang-orang pada bilang lain. Sekarang mentang-mentang sudah jadi artis ya sombong ! Seperti itu.

Lukman:
Dulu sama tetangga aku suka nongkrong. Sekarang sudah enggak pernah karena begitu pulang aku sudah dalam keadaan capek dan kita juga males.

Anda pegang kartu kredit?
Ariel:
Sekarang baru punya ha-ha... Soalnya dulu enggak butuh-butuh banget. Kayak kemaren kami ke Bangkok, enggak sempat tukerin uang, jadi kita ada kartu kredit.
Andika: Enggak.., saya enggak pakai. Kalau butuh-butuh, ya pinjem saja.

Masih ingat pertama kali main?
Lukman:
Kami cuma dibayar dengan nasi goreng sama teh botol waktu main di kafenya C-59 di Cihampelas.
Andika: Ceritanya, supaya bisa main di O-Hara, kita perlu ada portofolio. Ya udah, kita bilang sama yang punya kafe, terus boleh manggung sekali. Itu tahun 2000 akhir, pakai nama Peterpan. Di Sapulidi kami dapat Rp 600.000, uang itu dibagi rata karena belum ada kru. KETIKA mengajukan proposal untuk bermain di sebuah kafe di Bandung, Peterpan disyaratkan untuk mampu memainkan sekitar 100 lagu. Mereka padahal baru mampu memainkan kurang dari 20 lagu, tapi mereka mengaku telah mampu memainkan 100 lagu. Dari kafe dan penampilan di depan publik lain, mereka secara tak langsung telah membentuk jati diri, membentuk karakter sebuah kumpulan manusia alias band. Suatu kali telinga Mochamad Noerwana, personel Java Jive yang lebih dikenal sebagai Noey itu, menangkap permainan musik Peterpan. Noey memasukkan Peterpan dalam album kompilasi yang ditawarkannya ke Musica Studio. "Musik mereka membawa warna baru yang agak beda. Mereka lebih fresh, lebih muda untuk anak-anak zaman sekarang yang menyukai musik MTV style seperti Cold Play atau Blue," kata Indrawati Wijaya dari Musica. Personel Peterpan tumbuh ketika belantika musik Tanah Air sudah mengenal MTV. Mereka muncul ketika di luar tradisi pasar yang ikut dibangun "Remaco" dan kawan-kawan. Mereka tumbuh di bawah bayang-bayang Cranberries, REM, Enya, Toto, Creed, Staind, Radio Head, tapi juga Beatles.

BAGAIMANA Anda menyiapkan lagu?
Ariel:
Kadang-kadang aku memang lebih suka kalau aku bikin sendiri karena sesuai cara aku nyanyi. Akan tetapi, tergantung situasi. Waktu bikin album kedua aku sudah mentok banget, padahal waktunya pendek. Akhirnya aku bagikan kertas ke teman-teman, "Nih tolong bikinin liriknya!" Lagu Di Atas Normal bikin liriknya sehari, langsung rekaman.

Lirik Peterpan banyak disuka pendengar muda?
Ariel:
Kalau itu sebenarnya aku enggak ngerti. Sumpah! Mungkin aku banyak ambil dari kehidupan pribadi. Apa yang pernah aku lihat atau pikirin. Mungkin karena aku manusia normal seperti yang lainnya. Mungkin ceritanya sama dengan yang dialami orang yang dengar.

Bagaimana lagu Ada Apa Denganmu lahir?
Ariel:
Itu sebenarnya lagu lama, sebelum album pertama keluar.
Uki: Lagu itu tak dikeluarin di album pertama karena kami merasa lagu itu belum matang, baik lirik atau musiknya. Kalau kita ngerasa ini musik belum siap, ya kami tidak paksain. Kita tunda sampai dapet. Kayak Bintang di Surga itu juga sudah lama banget, tapi musiknya enggak dapat-dapat. Akhirnya kita tunda saja sampai dapat dan enggak harus keluar saat itu.
Daripada keluar tapi hasilnya jelek, mending kita tunda.
Ariel: Bintang di Surga baru selesai 20 persen, Ada Apa Denganmu waktu itu sekitar 60 persen, jadi belum sempat kita rekam.
Waktu itu warnanya belum seperti yang sekarang ini. Lagunya sama (Ariel menyenandungkan lagu tersebut), na..na..nana.... Akan tetapi, reff-nya ada penambahan lagi. Dulu di album pertama kan enggak banyak improvisasi. Banyak yang ditambahin lagi.

Banyak album ketiga atau keempat sebuah band yang tak sesukses album sebelumnya. Peterpan siap gagal?
Ariel:
Ketakutan seperti itu sih ada. Misalnya masih bisa bikin lagu enak enggak. Cuma kita syukurnya belakangan datangnya, jadi kita bisa belajar dari band-band sebelum kita. Kami belajar dari mereka, di mana bagusnya atau di mana jeleknya.

Album ketiga bagaimana?
Ariel:
Masih bingung antara rencana A atau B. Yang A konsepnya beda total sama album satu dan dua. Kalau yang B mungkin sama, tapi enggak lebih soft. Jadi kalau yang A enggak dipakai, mungkin yang ketiga ini bakal lebih kencang dari album-album yang sebelumnya.

Tapi, bagaimana jika penggemar telanjur menerima Peterpan seperti sekarang?
Ariel:
Kita atur transisinya. Misalnya di album pertama ada lagu bertempo pelan Semua Tentang Kita. Kalau yang sekarang, lagu pelannya sudah enggak ada. Paling adanya medium tempo. Selanjutnya, mediumnya dikurangin, yang up tempo-nya ditambah, kayak lagu Topeng. Jadi mudah-mudahan, dengan cara transisi ini, mereka enggak kerasa adanya perubahan. Jadi kita sudah siapin jembatannya kok. Untuk plan A sudah ada empat lagu, rencana B sudah siap dua lagu. Kalau plan A yang jadi, plan B pun kita siapkan jadi album keempat.

INFRASTRUKTUR yang mulai tertata dalam industri musik di negeri ini memungkinkan sebuah band melakukan tur keliling. Peterpan pada awal Maret lalu menggelar konser keliling di 20 kota di Sumatera dan Kalimantan. Sebelumnya mereka bersafari di sembilan kota di Jawa Timur. Dalam rangka promosi, Peterpan pada 18 Juni 2004 lalu menggelar acara "Breaking Record 24 Hours of Peterpan". Ini memang acara sensasional yang menyiksa raga. Mereka secara terusan dalam sehari bermain di enam kota Jakarta, Medan, Padang, Pekanbaru, Lampung, Semarang, Surabaya. Di Padang mereka harus main di panggung yang tidak beratap. Saat itu Ariel sudah tidak mampu lagi untuk banyak bergerak di panggung. Berkali-kali ia mengacungkan pengeras suara ke tempat penonton dan meminta mereka menyanyi menggantikan suaranya. Sementara, jari tangan kanan Indra sudah melepuh, membuatnya tersiksa ketika memukul drum.

BAGAIMANA Anda mengelola energi?
Ariel:
Ya capek sih. Akan tetapi, kita tahu kewajiban kita. Apa yang harus kita lakuin ya kita lakuin. Awalnya sih kita berpikir, wah ini gila juga. Sekarang ya capek sih, tapi ternyata bisa dijalanin.

Ada kompensasi untuk membayar terkurasnya tenaga itu?
Ariel:
Kita belum tahu sih untuk sekarang, tapi kayak breaking record sendiri kan kita tahu orang jadi banyak yang tahu.
Lukman: Kami mendapat banyak pengalaman. Apalagi kalau kita mau jadi band senior. Harus lebih dewasa, kita harus tahu stage to stage. Kami menganggap itu sebagai cara belajar juga.

Anda mendapat energi dari penonton?
Reza:
Ya, waktu main saya pernah terkena flu berat. Waktu main saya tetap konsentrasi di ketukan. Itu bagian aku, dan itu enggak bisa kalau dihilangkan. Makanya aku paksain.
Uki: Pas breaking record itu kita kepanasan di jalan, di lapangan. Naik pesawat kondisi berubah dingin. Terus main lagi, panas lagi. Di Surabaya, kami sebenarnya sudah enggak punya tenaga lagi. Cuma, pas sudah naik ke panggung penontonnya banyak dan kasih spirit. Kita sudah main di lima kota dan capek banget. Akan tetapi, lihat mereka terus kita twinggg.... seger lagi lalu...wahhhhh

Bagaimana soal penggemar?
Uki:
Tiap kita datang, kita diharapkan datang ke rumah orang berpengaruh seperti bupati dan sebagainya. Kita diundang, padahal kita sudah sangat capek. Orang event organizer, penyelenggara bilang kami harus menemui mereka karena mereka kan orang penting. Misalnya di Pamekasan, Madura, kita harus ketemu sama juragan tembakau. Sampai di Pamekasan hari sudah malam dan kami sangat capek. Kami lapar dan ingin makan di hotel, tapi enggak dikasih. Katanya, kami harus makan di rumah juragan tembakau itu. Di sana sudah tersedia semuanya. Ada juga bupati yang anaknya pengin ketemu kami. Kita pikir, ya ampun anak ini manja banget. Yang jadi tumbalnya kan kami. Kami penginnya enggak membedakan siapa pun. Orang lain juga pengen ketemu. Tapi, kalau kita lagi istirahat ya gak bisa ketemu. Kami kan perlu menjaga fisik juga.

Bukankah itu pertanda Peterpan dikagumi?
Uki:
Kita enggak ngerasa seperti orang penting yang harus diundang ke sana ke mari. Kita cuma pemain musik doang.
Lukman: Tapi, awalnya tersanjung juga, lama-lama biasa aja. Karena tiap kota kayak gitu. Kami enggak ngerasa sebagai superstar. Kami merasa biasa saja.

Anda tambah percaya diri?
Lukman:
Penonton yang bisa bikin kami tambah percaya diri dan tambah semangat. Itu yang membuat kami merasa seperti enggak ada capeknya. Pas baru mau main kami merasa pusing. Tapi, pas selesai kami malah merasa malah fit.

Di Peterpan sepertinya instrumentalisnya tidak ada yang ingin menonjol banget?
Lukman:
Dulu sebelum di Peterpan saya idealis banget. Pokoknya lagu harus ada yang dululutluluttt... (menirukan gitar).
Pokoknya, jarinya jalan-jalan gitu lho. Tapi kayaknya enggak masuk dengan personel yang lain. Setelah belajar lama akhirnya kita jadi bisa nahan emosi.
Uki: Yah, memang kita lebih banyak nahan emosi, kita enggak pengen nonjolin diri kita sebagai individu tapi lebih pada sebuah band.

Yakin akan hidup dari musik dan tidak melanjutkan kuliah?
Ariel:
Enggak tahu ha-ha-ha... Aku udah dua tahun enggak pernah ke Unpar lagi. Masih bingung sih. Insya Allah masih terdaftar. Sempat juga usahain, tapi dibentak-bentak. "Kamu mau kuliah atau mau main musik?"
Andika:
Aku percaya di musik. Sekarang mikirnya hari tua kita mau ngapain.

Pewawancara: Edna Caroline Pattisina, Frans Sartono

   4 comments

Rytan
January 19, 2009   10:30 PM PST
 
ka ariel,,Q mw d'bkin lagu tntang mslh pribadiQ yg smpai skrng bgtu sulit bngt tu' Q pahami..T_T
Brikan Q satu kepingan hati yg mngkin bs Q beri tu' k'kasih yg dpt m'brikan banyak arti dlm hdpQ ne kEy ka..?!
I wiLL aLway's Loving with :
"PETER PAN"
Dheerariel
September 13, 2005   08:22 PM PDT
 
Sedihnya Ariel ku dah kahwin,,,,Hara-harap korang buat konsert dekat malaysia...peminatmu sedang menunggu...
jessica
July 15, 2005   11:31 PM PDT
 
ariel kamu akan segera jadi milikku tunggu aja sayank sebentar lagi waktu itu akan segera tiba dan nggak ada yang bisa memisahkan kita lagi termasuk lia
jessica
July 15, 2005   11:23 PM PDT
 
kalian bisa bantu aku nanya ke ariel nggak kenapa dia cepat banget mau nikah padahal kan itu akan menyakiti banyak banget hati cewek kenapa sich dia ngelakuin itu apa dia nggak ngerasa banyak banget cewek yg hancur hatinya karna pernikahan itu

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments